Udara pagi selalu menjadi
saksi setia langkah seorang guru muda yang berangkat mengajar dari rumah
sederhana menuju sekolah yang jaraknya sekitar enam kilometer. Setiap pukul
enam pagi, dengan udara yang masih sejuk dan jalanan yang belum ramai, ia mengayuh
semangatnya menuju tugas mulia mendidik generasi bangsa. Tahun 2005 menjadi
awal perjalanan panjang sebagai guru honorer, perjalanan yang tidak selalu
mudah, tetapi penuh ketulusan.
Di tengah kesibukan mengajar
dan keterbatasan yang ada, ia mengambil langkah besar kuliah D2 di sebuah kampus di Kabupaten
Subang. Setiap hari ia membagi waktu dan tenaga antara tanggung jawab sebagai
guru honorer dan sebagai mahasiswa. Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil
pada tahun 2007, ketika ia lulus dan menyandang gelar A.Ma PGSD/MI.
Pada tahun 2008 ia pindah ke
sekolah baru yang lokasinya lebih dekat dengan rumah. Namun, kebahagiaan itu
tak berlangsung lama. Dua tahun setelah kelulusan D2, muncul kebijakan baru
dari pemerintah guru harus memiliki pendidikan minimal S1. Ia hanya bisa
menatap kesempatan demi kesempatan pengangkatan PNS berlalu begitu saja. Bukan
karena kurangnya pengabdian, tetapi karena keterbatasan biaya untuk kembali
kuliah.
Waktu terus berjalan, tetapi
hatinya tak pernah menyerah. Hingga pada tahun 2019, ia kembali mengambil
keputusan besar, melanjutkan pendidikan
S1. Dengan dana yang pas-pasan, beberapa kali harus mengambil cuti kuliah, dan
berbagai rintangan yang menyertai perjalanan akademiknya, ia tetap berjalan
teguh.
Perjuangan itu akhirnya
berbuah manis pada Oktober 2025. Ia lulus sebagai sarjana. Namun, kebahagiaan
itu hadir bersama ujian baru. Saat pengisian DRH PPPK Paruh Waktu dibuka,
ijazah S1 belum diterima, sementara pemberkasan harus dilakukan. Tak ada pilihan
lain selain menerima perubahan status dari guru PAI menjadi tenaga teknis. Sebuah
keputusan berat, karena impian awal menjadi guru harus berubah arah.
Namun Tuhan selalu menyimpan
kejutan. Pada tanggal 27 November 2025, kado terindah itu datang. Sebuah
pengakuan yang ia nantikan hampir dua dekade akhirnya terwujud. Status honorer
yang selama ini ia sandang berubah menjadi ASN. Meskipun jalan hidup membawanya
pada posisi yang berbeda dari cita-cita awal, tetapi perjuangannya tidak
sia-sia. Dua puluh tahun dedikasi, pengorbanan, dan kesabaran itu akhirnya
dihargai.
Teruntuk Presiden Prabowo, Bapak
Gubernur Jawa Barat, Bapak Bupati Subang, serta semua pihak yang telah bekerja
keras membuka pintu kesempatan bagi para honorer: terima kasih. Karena melalui
kebijakan dan kebijaksanaan merekalah, mimpi yang lama tertunda kini menjadi
kenyataan.
Dan bagi sang pejuang
pendidikan itu sendiri, perjalanan panjang ini bukan hanya tentang profesi,
tetapi tentang keteguhan hati, tentang tidak menyerah meski berkali-kali diuji,
dan tentang keyakinan bahwa setiap perjuangan pada akhirnya akan menemukan
harinya.
Hari itu
tiba: 27 November 2025.
Hari ketika
langit terasa lebih cerah, dan langkah terasa lebih ringan.
Hari ketika
sebuah nama akhirnya resmi diakui sebagai ASN, setelah hampir 20 tahun
mengabdi.
