Saturday, November 29, 2025

*Perjalanan Panjang Menuju Pengakuan*

Udara pagi selalu menjadi saksi setia langkah seorang guru muda yang berangkat mengajar dari rumah sederhana menuju sekolah yang jaraknya sekitar enam kilometer. Setiap pukul enam pagi, dengan udara yang masih sejuk dan jalanan yang belum ramai, ia mengayuh semangatnya menuju tugas mulia mendidik generasi bangsa. Tahun 2005 menjadi awal perjalanan panjang sebagai guru honorer, perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi penuh ketulusan.

Di tengah kesibukan mengajar dan keterbatasan yang ada, ia mengambil langkah besar  kuliah D2 di sebuah kampus di Kabupaten Subang. Setiap hari ia membagi waktu dan tenaga antara tanggung jawab sebagai guru honorer dan sebagai mahasiswa. Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2007, ketika ia lulus dan menyandang gelar A.Ma PGSD/MI.

Pada tahun 2008 ia pindah ke sekolah baru yang lokasinya lebih dekat dengan rumah. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Dua tahun setelah kelulusan D2, muncul kebijakan baru dari pemerintah guru harus memiliki pendidikan minimal S1. Ia hanya bisa menatap kesempatan demi kesempatan pengangkatan PNS berlalu begitu saja. Bukan karena kurangnya pengabdian, tetapi karena keterbatasan biaya untuk kembali kuliah.

Waktu terus berjalan, tetapi hatinya tak pernah menyerah. Hingga pada tahun 2019, ia kembali mengambil keputusan besar,  melanjutkan pendidikan S1. Dengan dana yang pas-pasan, beberapa kali harus mengambil cuti kuliah, dan berbagai rintangan yang menyertai perjalanan akademiknya, ia tetap berjalan teguh.

Perjuangan itu akhirnya berbuah manis pada Oktober 2025. Ia lulus sebagai sarjana. Namun, kebahagiaan itu hadir bersama ujian baru. Saat pengisian DRH PPPK Paruh Waktu dibuka, ijazah S1 belum diterima, sementara pemberkasan harus dilakukan. Tak ada pilihan lain selain menerima perubahan status  dari guru PAI menjadi tenaga teknis. Sebuah keputusan berat, karena impian awal menjadi guru harus berubah arah.

Namun Tuhan selalu menyimpan kejutan. Pada tanggal 27 November 2025, kado terindah itu datang. Sebuah pengakuan yang ia nantikan hampir dua dekade akhirnya terwujud. Status honorer yang selama ini ia sandang berubah menjadi ASN. Meskipun jalan hidup membawanya pada posisi yang berbeda dari cita-cita awal, tetapi perjuangannya tidak sia-sia. Dua puluh tahun dedikasi, pengorbanan, dan kesabaran itu akhirnya dihargai.

Teruntuk Presiden Prabowo, Bapak Gubernur Jawa Barat, Bapak Bupati Subang, serta semua pihak yang telah bekerja keras membuka pintu kesempatan bagi para honorer: terima kasih. Karena melalui kebijakan dan kebijaksanaan merekalah, mimpi yang lama tertunda kini menjadi kenyataan.

Dan bagi sang pejuang pendidikan itu sendiri, perjalanan panjang ini bukan hanya tentang profesi, tetapi tentang keteguhan hati, tentang tidak menyerah meski berkali-kali diuji, dan tentang keyakinan bahwa setiap perjuangan pada akhirnya akan menemukan harinya.

Hari itu tiba: 27 November 2025.

Hari ketika langit terasa lebih cerah, dan langkah terasa lebih ringan.

Hari ketika sebuah nama akhirnya resmi diakui sebagai ASN, setelah hampir 20 tahun mengabdi.

BERITA TERBARU

Ini adalah kepala halaman Anda. Example HTML page Ini adalah isi halaman Anda.